Telur retak sebelum dimasak, masih bisa digunakan? Cek kondisinya
Diperbarui 21 Sep 2026, 18:37 WIB
Diterbitkan 21 Sep 2026, 12:00 WIB
- Kenapa telur retak perlu diperiksa lebih hati-hati?
- Telur retaknya seperti apa? Cek dulu sebelum memutuskan
- Jadi, telur retak sebelum dimasak masih bisa digunakan?
- Jadi, waktu terjadinya retakan juga penting.
- Jangan cuma mengandalkan bau untuk mengecek telur
- Kalau telurnya digunakan, bagaimana cara memasaknya?
- Beda telur retak sebelum dimasak dan saat direbus
- Kesalahan yang sebaiknya tidak dilakukan saat menemukan telur retak
- Bagan alur: telur retak sebaiknya diapakan?
- Cara menyimpan telur agar tidak mudah retak
- Checklist cepat sebelum telur masuk mangkuk
- FAQ
Brilio.net - Baru mau bikin telur dadar, ternyata ada satu telur dengan cangkang retak. Karena belum berbau dan bagian dalamnya terlihat normal, muncul pertanyaan: telur retak masih bisa digunakan atau sebaiknya dibuang? Jangan buru-buru memecahkannya ke mangkuk. Retakan pada cangkang membuat telur perlu ditangani berbeda dari telur yang masih utuh. Kondisi retak, apakah isinya sudah keluar, serta kapan retakan itu terjadi menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum telur diolah.
Kenapa telur retak perlu diperiksa lebih hati-hati?
Cangkang telur bersama lapisan pelindung di bawahnya membantu menjaga bagian dalam telur dari lingkungan luar. Ketika cangkang retak, perlindungan tersebut tidak lagi utuh sehingga celah pada cangkang dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri.
Hal ini juga menjadi perhatian Food Safety and Inspection Service (FSIS), lembaga di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menangani panduan keamanan pangan untuk produk seperti daging, unggas, dan telur. Dalam panduannya tentang telur bercangkang retak, FSIS menjelaskan bahwa bakteri dapat masuk melalui retakan. Karena alasan tersebut, konsumen dianjurkan tidak membeli telur yang cangkangnya sudah retak.
Artinya, retakan pada telur bukan sekadar masalah tampilan. Kondisi cangkang yang sudah rusak membuat telur perlu diperlakukan lebih hati-hati dibandingkan telur yang masih utuh.
Hal lain yang perlu diingat, telur dengan cangkang utuh pun bukan berarti bebas dari bakteri. FDA menjelaskan bahwa telur segar, termasuk yang cangkangnya bersih dan tidak retak, masih dapat mengandung Salmonella.
Itulah sebabnya keputusan menggunakan telur tidak cukup hanya berdasarkan tampilan luarnya.
Telur retaknya seperti apa? Cek dulu sebelum memutuskan
Tidak semua telur retak ditemukan dalam kondisi yang sama. Ada yang hanya terlihat seperti garis halus pada cangkang, ada pula yang sudah membuat putih atau kuning telur merembes keluar.
Cangkang retak tipis, tetapi tidak bocor
Kondisinya biasanya terlihat seperti satu garis atau beberapa garis kecil pada permukaan cangkang, sementara tidak ada isi telur yang keluar.
Meski tampak sepele, jangan langsung menyimpulkan telur tersebut sama dengan telur utuh. Retakan tetap berarti cangkang sudah rusak.
Jika telur ditemukan sudah retak sebelum dimasak, pilihan yang paling aman adalah tidak menggunakannya, terutama bila kondisi retakan atau riwayat penanganannya tidak jelas. Ini sejalan dengan panduan USDA yang menyarankan tidak membeli telur bercangkang retak karena bakteri dapat masuk melalui celah tersebut.
Retak sampai isi telur mulai keluar
Kondisinya lebih mudah dikenali karena putih atau kuning telur mulai merembes melalui bagian cangkang.
Jangan menyimpan telur seperti ini bersama telur utuh. Isi telur yang sudah keluar juga dapat mengenai wadah, tangan, atau bahan makanan lain.
Jika kondisi telur sudah bocor dan tidak jelas kapan retak atau bagaimana telur tersebut terkontaminasi, lebih aman tidak menggunakannya.
Telur pecah, bocor, atau bagian retaknya kotor
Ini merupakan kondisi yang sebaiknya tidak dipaksakan untuk digunakan.
Misalnya telur pecah di dalam kantong belanja, cangkangnya terkena kotoran, atau cairan dari bahan mentah lain mengenai bagian retak. Jangan mencoba membersihkan bagian luarnya lalu menganggap telur kembali seperti semula.
Untuk bahan yang kondisi keamanannya sudah meragukan, membuangnya lebih masuk akal daripada mencampurkannya ke makanan lain.
Jadi, telur retak sebelum dimasak masih bisa digunakan?
Jawaban praktisnya: jangan menyamakan telur yang retak sebelum dimasak dengan telur yang cangkangnya masih utuh.
Berikut panduan sederhananya:
| Kondisi telur | Yang terlihat | Langkah yang lebih aman |
|---|---|---|
| Cangkang utuh | Tidak ada retakan atau kebocoran | Simpan dan olah seperti biasa |
| Retak sebelum dimasak, tetapi tidak bocor | Ada garis retak pada cangkang | Jangan diperlakukan seperti telur utuh; pilihan paling aman adalah tidak menggunakannya |
| Retak dan isi mulai keluar | Putih atau kuning telur merembes | Sebaiknya tidak digunakan |
| Pecah atau bocor dan terkena kotoran | Isi telur sudah terbuka atau tercemar | Sebaiknya dibuang |
| Retak saat proses merebus | Cangkang pecah setelah telur sedang dimasak | Berbeda dari telur yang sudah retak sebelumnya; lanjutkan pemasakan hingga matang |
USDA secara khusus membedakan telur yang sudah retak dengan telur yang cangkangnya baru pecah ketika proses hard cooking. Menurut FSIS, telur yang retak selama proses memasak tersebut dapat tetap digunakan selama telur dimasak hingga matang.
Jadi, waktu terjadinya retakan juga penting.
Kalau telur retak baru ketahuan setelah sampai rumah, bagaimana?
Misalnya satu butir telur ditemukan retak ketika karton dibuka. Jangan langsung memecahkannya ke mangkuk yang sedang digunakan untuk menyiapkan makanan.
1. Pisahkan dari telur lainnya
Letakkan telur yang retak terpisah agar cairannya tidak mengenai telur lain atau bahan makanan di sekitarnya.
Jika ada cairan telur mentah yang sudah keluar, hindari menyentuh bahan makanan lain sebelum mencuci tangan.
2. Bersihkan tangan dan permukaan yang terkena telur
FDA menganjurkan mencuci tangan, peralatan, dan permukaan kerja dengan air panas dan sabun setelah bersentuhan dengan telur mentah. Langkah ini membantu mencegah kontaminasi silang selama proses memasak.
Jadi, bukan hanya telur yang perlu diperhatikan. Talenan, meja dapur, wadah, atau gagang peralatan yang terkena cairan telur juga perlu dibersihkan.
3. Jangan memecahkan telur meragukan langsung ke adonan
Ini trik sederhana yang bisa menyelamatkan bahan lain.
Misalnya sedang membuat:
- telur dadar;
- pancake;
- martabak;
- kue;
- adonan gorengan.
Untuk telur yang kondisinya masih perlu diperiksa, jangan langsung memecahkannya ke mangkuk berisi bahan lain. Jika ternyata telur tersebut harus dibuang, adonan yang sudah tercampur juga berisiko ikut terbuang.
Jangan cuma mengandalkan bau untuk mengecek telur
Telur yang sudah rusak bisa saja memiliki bau tidak normal. Namun, tidak adanya bau aneh bukan berarti telur otomatis aman.
FDA menjelaskan bahwa telur segar bahkan dengan cangkang yang bersih dan tidak retak masih mungkin mengandung Salmonella. Artinya, indra penciuman dan tampilan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya cara untuk memastikan telur bebas dari bakteri tersebut.
Karena itu, jangan menggunakan logika:
“Tidak bau berarti aman.”
Untuk telur yang sudah retak sebelum dimasak, kondisi cangkangnya sendiri sudah menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.
Kalau telurnya digunakan, bagaimana cara memasaknya?
Untuk telur yang memang layak digunakan, pemasakan tetap perlu dilakukan dengan benar.
FDA menyarankan telur dimasak sampai putih dan kuning telur menjadi padat, sedangkan makanan yang mengandung telur juga perlu dimasak secara menyeluruh.
Jangan menjadikan durasi tertentu seperti “masak tiga menit pasti aman” sebagai patokan tunggal. Tingkat kematangan, metode memasak, ukuran telur, dan penyebaran panas dapat berbeda.
Jika resep memang membutuhkan telur mentah atau setengah matang, FDA menyarankan menggunakan telur yang telah dipasteurisasi atau produk telur yang dipasteurisasi.
Jadi, untuk hidangan seperti saus, dessert, atau adonan yang tidak mengalami pemasakan menyeluruh, telur biasa yang kondisinya meragukan bukan pilihan yang tepat.
Beda telur retak sebelum dimasak dan saat direbus
Dua kondisi ini sering dianggap sama, padahal situasinya berbeda.
Telur sudah retak sebelum masuk panci
Cangkang sudah rusak sejak awal. Ada kemungkinan telur mengalami kerusakan atau kontaminasi sebelum proses memasak.
Telur baru retak ketika sedang direbus
Retakan terjadi sebagai bagian dari proses pemasakan. USDA menyebut telur yang retak ketika hard cooking masih dapat digunakan selama telur dimasak hingga matang.
Jadi, kalau baru terdengar bunyi krek saat telur sedang direbus, situasinya tidak sama dengan menemukan telur yang sudah retak sejak masih berada di karton.
Kesalahan yang sebaiknya tidak dilakukan saat menemukan telur retak
1. Menganggap retakan kecil pasti aman
Ukuran retakan tidak cukup untuk memastikan kondisi keamanan telur. Cangkang yang sudah retak tetap berbeda dari telur yang utuh.
2. Mencampurkan telur retak ke adonan besar
Jika telur akhirnya harus dibuang, bahan lain yang sudah tercampur ikut terbuang.
3. Mengandalkan bau sebagai satu-satunya pemeriksaan
Tidak adanya bau aneh tidak dapat memastikan telur bebas dari Salmonella.
4. Menggunakan telur meragukan untuk makanan setengah matang
Jika telur akan tetap mentah atau kurang matang dalam hidangan, gunakan telur atau produk telur yang dipasteurisasi sesuai kebutuhan resep.
5. Membiarkan cairan telur mentah mengenai bahan lain
Pisahkan telur dan bersihkan permukaan yang terkena cairan telur untuk mengurangi risiko kontaminasi silang.
Bagan alur: telur retak sebaiknya diapakan?
dan area retakan
↓
Sebaiknya
dibuang
↓
Cangkang tetap
sudah rusak
seperti telur utuh
proses memasak
sampai matang
Ada kotoran, kebocoran, atau kondisi meragukan?
↓
Sebaiknya dibuang
↓
Ikuti prinsip keamanan telur saat memasak
Cara menyimpan telur agar tidak mudah retak
Selain mengetahui cara menangani telur yang sudah retak, kondisi penyimpanan juga bisa diperhatikan sejak awal.
FDA menyarankan telur disimpan dalam karton aslinya dan segera dimasukkan ke kulkas pada suhu 40°F atau sekitar 4,4°C ke bawah untuk sistem penyimpanan yang mengikuti panduan tersebut. Karton membantu melindungi telur dari kerusakan fisik sekaligus mencegah telur menyerap bau dari makanan lain.
Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan:
- simpan telur dalam karton aslinya;
- jangan menaruh benda berat di atas karton;
- hindari memindahkan telur berkali-kali dari satu wadah ke wadah lain;
- jangan menjejalkan telur di tempat yang mudah membuat cangkangnya terbentur;
- pisahkan telur yang sudah retak dari telur yang masih utuh.
Untuk pembaca di Indonesia, tetap sesuaikan dengan petunjuk penyimpanan pada kemasan dan kondisi telur yang dibeli, karena praktik penanganan dapat berbeda menurut produk dan sistem distribusinya.
Checklist cepat sebelum telur masuk mangkuk
Sebelum memecahkan telur, terutama jika menemukan cangkang yang mencurigakan, lakukan pemeriksaan singkat:
Cangkang → kebocoran → kebersihan → cara memasak
Apakah cangkangnya masih utuh?
Kalau retak, apakah sudah ada isi yang keluar?
Apakah bagian retak terkena kotoran atau cairan bahan lain?
Apakah telur akan dimasak sampai matang?
Apakah telur akan digunakan dalam resep mentah atau setengah matang?
Jika kondisinya meragukan, apakah lebih baik tidak digunakan?
Intinya, jangan menjadikan “tidak bau” sebagai satu-satunya patokan. Untuk telur yang sudah retak sebelum dimasak, pilihan paling aman adalah tidak menggunakannya, sedangkan telur yang baru retak ketika proses merebus merupakan kondisi yang berbeda dan masih dapat dimasak sampai matang.
FAQ
Apakah telur retak sebelum dimasak masih bisa digunakan?
USDA menyebut bakteri dapat masuk melalui retakan pada cangkang dan menyarankan konsumen tidak membeli telur yang sudah retak. Karena itu, telur yang diketahui sudah retak sebelum dimasak sebaiknya tidak diperlakukan seperti telur utuh.
Apakah telur yang retak saat direbus masih bisa dimakan?
USDA menyatakan telur yang retak selama proses hard cooking dapat tetap digunakan, dengan catatan telur dimasak hingga matang.
Apakah telur retak sedikit pasti sudah terkontaminasi?
Tidak bisa disimpulkan demikian hanya dari tampilan retakannya. Namun, retakan membuat cangkang tidak lagi utuh dan bakteri dapat masuk melalui celah tersebut.
Apakah telur yang tidak bau berarti aman?
Tidak selalu. FDA menjelaskan telur segar dengan cangkang bersih dan tidak retak pun masih mungkin mengandung Salmonella, sehingga bau dan tampilan tidak cukup untuk memastikan keamanan.
Bagaimana cara memasak telur agar lebih aman?
FDA menyarankan memasak telur sampai putih dan kuningnya menjadi padat. Untuk makanan yang mengandung telur, masak secara menyeluruh. Jika resep membutuhkan telur mentah atau kurang matang, gunakan telur atau produk telur yang dipasteurisasi.
Bagaimana menyimpan telur agar tidak mudah retak?
Simpan telur dalam karton aslinya, hindari tekanan atau benturan, dan ikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan. FDA untuk telur dalam sistem yang dicakup panduannya merekomendasikan penyimpanan dalam kulkas pada suhu 40°F atau sekitar 4,4°C ke bawah.
(brl/tin)
RECOMMENDED ARTICLES
- Telur dadar sering sobek saat dibalik? trik sederhana ini bikin bentuknya lebih utuh
- Tanggal tua cuma punya telur dan nasi? 6 Ide menu hemat yang bisa dibuat tanpa banyak alat masak
- 5 Resep olahan telur tanpa digoreng, ada yang dikukus sampai dipanggang
- Cara membuat telur gulung wortel dan keju, tips biar tak mudah pecah
- 7 Resep olahan telur yang bukan telur dadar biasa, bahan murah untuk menu harian
FOODPEDIA
Video
Selengkapnya-
Jalan Makan Shiki, resto sukiyaki bergaya kansai daging disajikan dengan permen kapas
-
Jalan Makan Kari Lam, jualan sejak 1973 membawa rasa nostalgia
-
Jalan Makan Sroto Eling-Eling, gurihnya kuah dan melimpahnya daging kuliner Banyumas
Resep
Selengkapnya-
Tanggal tua cuma punya telur dan nasi? 6 Ide menu hemat yang bisa dibuat tanpa banyak alat masak
17 / 09 / 2026 12:00 WIB -
8 Resep olahan sayur pakai rice cooker yang 30 menit jadi, bisa pakai bahan seadanya di kulkas
17 / 09 / 2026 19:00 WIB -
5 Rekomendasi pisau dapur satu set di bawah rp 200 ribu yang reviewnya bagus, cocok untuk hadiah
18 / 09 / 2026 20:00 WIB -
Cuma punya sisa bahan makanan di kulkas, ini resep Frittata sayur & keju cuma pakai 1 wajan saja
21 / 09 / 2026 19:00 WIB